Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Wednesday, September 16, 2009

:: Jom balik kampung sempena raya ni...

Bulan ramadhan sudah menghampiri penghujungnya... dan bulan syawal akan muncul... dan ada pihak akan terlibat untuk melihat dan mengesahkan akan bilakah masa sebenarnya bagi rakyat negara ini untuk berhari raya pada tahun ini. Sama2lah kita menunggu pengumuman oleh pihak berwajib mengenai penentuan tarikh tersebut. Ada pihak yang telah mengambil cuti mulai hujung minggu ini... merancang dan bersiap sedia untuk sambutan hari raya... ada yang mungkin untuk balik ke kampung masing2 bersama kaum keluarga... ada yang mungkin akan berhari raya di rantau sahaja... dan kesian kepada pihak yang tidak punya kampung untuk balik berhari raya sebab mereka berasal dari bandar... kecuali yang berasal dari Kg. Bharu di "tobiaq" Kuala Lumpur... yang sebenarnya berasal dari kampung...


.......................................................................................................

Balik Kampung Dulu, Balik Kampung Kini

Oleh Zulkiple Ibrahim

KUALA LUMPUR, 15 Sept (Bernama) -- Di minggu terakhir Ramadan ini, lagu 'Balik Kampung' oleh allahyarham Datuk Sudirman Arshad terasa bagai dinyanyikan dalam jiwa ramai penghuni di kota raya ini.

Beberapa hari sebelum Aidilfitri, yang dijangka pada hujung minggu ini, jalan-jalan menghala keluar dari bandar-bandar utama di negara ini akan mula sesak dengan kenderaan membawa ribuan penghuni kota untuk 'balik kampung'.

"Balik kampung sudah menjadi satu budaya bagi rakyat Malaysia bukan sahaja pada Hari Raya tetapi juga perayaan lain seperti Tahun Baru Cina dan Deepavali. Bukan sahaja bagi orang Melayu tapi untuk semua bangsa," kata bekas pendidik Fatimah Mansur.

Kata beliau balik kampung kini telah bertukar menjadi satu fenomena.

"Cakap saja balik kampung, satu transformasi akan menyelinap ke dalam jiwa anda," katanya.

KENAPA PERLU BALIK KAMPUNG?

Balik kampung ialah satu perkara yang memenatkan. Terdapat kesesakan jalan yang teruk, kemalangan termasuk kemalangan maut, juga kos yang tinggi dari segi pengangkutan.

Jadi kenapa perlu balik kampung dan kenapa tidak menyambut Hari Raya di kota sahaja.

"Masyarakat kita memang gemar menziarah kaum keluarga dan berjumpa mereka secara langsung, bukan hanya bercakap melalui telefon atau berkomunikasi melalui e-mel atau teknologi yang lain.

"Balik kampung adalah satu proses mengeratkan pertalian keluarga," kata Fatimah.

Bagi jururawat Elizabeth Choo, Aidilfitri adalah untuk semua.

"Ia merupakan cuti kebangsaan, jadi kita semua perlulah balik kampung kalau boleh, dan berjumpa orang tua. Mereka agak sukar untuk datang ke sini. Bila lagi, sebab pada hari lain kita sibuk bekerja," kata Choo yang berasal dari Tanah Merah, Kelantan.

BALIK KAMPUNG DULU, BALIK KAMPUNG SEKARANG

Penulis masih ingat pada tahun 1982, ketika beliau seorang mahasiswa di sebuah universiti di sini, beliau terpaksa duduk di lantai gerabak kereta api kelas tiga untuk 'balik kampung' kerana ingin menyambut Hari Raya bersama ibunya di Pasir Mas, Kelantan.

Semuanya kerana tiket bas kehabisan. Untuk naik kapal terbang jauh sekali kerana penulis tidak mampu. Ketika itu perkhidmatan bas tidaklah sebanyak dan sebaik yang ada sekarang.

Sekarang untuk balik kampung sahaja, beratus-ratus bas yang selesa serta berhawa dingin disediakan. Tak cukup lagi, beratus permit bas sementara juga disediakan oleh pihak berkuasa pengangkutan.

Naik kapal terbang untuk balik kampung juga kini satu kemudahan untuk semua.

"Naik kapal terbanglah pakcik, sekejap je dan tambang pun tak mahal," kata seorang pelajar universiti, Nurul Huda, bila ditanya penulis bagaimana beliau hendak balik kampung.

"Dulu kalau mahu pulang ke Sabah untuk sambut Hari Raya cukup mahal dan susah. Tidak lagi sekarang,"kata Surami Saimi yang berasal dari Penampang, Kota Kinabalu.

Tiga dekad yang lalu, hanya syarikat penerbangan MAS yang beroperasi. Kini, telah wujud syarikat penerbangan tambang murah seperti Firefly dan AirAsia yang boleh menerbangkan anda kemana-mana saja destinasi di dalam dan luar negara.

Bagi yang memilih untuk naik kereta api, perjalanan mereka juga selesa kerana semua koc KTMB mempunyai pendingin hawa serta kerusi yang bernombor.

Jadi, bukanlah satu kerumitan untuk balik kampung dan menemui sanak saudara di musim perayaan ini.

Selamat Hari Raya.

-- BERNAMA

Saturday, September 12, 2009

:: Tarian Pendet menjadi penyebab

/Home/Internasional/Feature

Hubungan RI-Malaysia Sulit
"Pencaplokan" Tarian Pendet Termasuk Menjadi Penyebab
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima mantan Wakil Presiden Try Sutrisno yang juga Ketua Eminent Persons Group Indonesia di Kantor Presiden. Jakarta, Jumat (11/9). Kunjungan Try Sutrisno untuk membicarakan hubungan bilateral Indonesia-Malaysia yang sekarang dirasakan kurang harmonis.
Sabtu, 12 September 2009 | 06:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hubungan bilateral RI-Malaysia kini memasuki babak sulit yang ditandai dengan munculnya beberapa persoalan yang mengganggu. Indonesia mengedepankan jalur diplomasi, perundingan, atau komunikasi politik sehat agar semua masalah bisa diselesaikan.

”Mengelola hubungan kedua negara memang sulit. Komunikasi politik yang kita lakukan sudah bagus. Namun, tetap perlu kajian sosiologis bersama tentang hubungan antarkedua negara ini,” kata Kepala Biro Administrasi Menteri/Juru Bicara Deplu RI Teuku Faizasyah menjawab Kompas seusai jumpa pers di kantor Deplu Jakarta, Jumat (11/9).

Tingkat kesulitan itu bukan terletak pada lemahnya komunikasi politik atau jalur diplomasi yang dibangun selama ini, melainkan semata-mata karena perbedaan cara pandang di kalangan generasi muda.

”Komunikasi politik kita sudah baik. Masalahnya kita kini berada di era yang berbeda. Generasi baru melihat (hubungan) itu lebih rasional dan para orangtua dulu melihat kedua negara sebagai serumpun,” katanya.

Beberapa persoalan muncul setelah klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia, terutama dalam kasus tarian pendet Bali.

Hal ini ditambah lagi dengan persoalan dari sisi Indonesia. Misalnya, ada aksi sweeping terhadap warga Malaysia, pembakaran bendera dan atribut negara tetangga itu, serta unjuk rasa di Jakarta. Ada juga kasus rumah kontrakan mahasiswa Malaysia di Yogyakarta dilempari dengan telur busuk.

”Deplu mengecam tindakan sweeping ini karena tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga dapat mencoreng citra Indonesia di dunia internasional. Namun, aksi ini hanya dilakukan sekelompok kecil warga, bukan mewakili rakyat kita. Kita harus memakai jalur diplomasi dengan arif, bijak, dan damai,” kata Teuku.

Menlu akan bertemu

Saat jumpa pers, Teuku menyatakan, Malaysia prihatin dan mencemaskan keselamatan warganya di Indonesia. Kecemasan itu antara lain ditunjukkan Menteri Luar Negeri Malaysia YB Datuk Anifah Haji Aman yang sampai memanggil Duta Besar RI untuk Malaysia Da’i Bachktiar di Kuala Lumpur, Rabu lalu.

”Kita menjelaskan Indonesia melindungi semua warga asing, termasuk warga Malaysia,” jelas Teuku lagi.

Dalam rangka mengelola kembali hubungan baik antarkedua negara, Menlu Malaysia berinisiatif menemui Menlu RI Hassan Wirajuda pada hari Kamis yang akan datang. ”Beliau berinisiatif datang ke Indonesia dan akan diterima Bapak Menlu kita. Keduanya akan membahas isu-isu terkini terkait banyak hal. Bagaimana seharusnya kedua negara ini mengelola hubungan bilateralnya,” jelas Teuku.

Masalah yang akan menjadi fokus pembicaraan kedua pejabat tersebut, kata Teuku, belum dapat dirincikan. Meski demikian, kemungkinan besar beberapa isu sensitif akan menjadi fokus pembicaraan, mungkin juga termasuk soal isu sweeping warga, pembakaran atribut Malaysia, dan klaim produk budaya Indonesia yang dilakukan negara tetangga itu.

Saat ini sudah terbentuk kelompok tokoh terkemuka atau Eminent Person Group (EPG) Indonesia-Malaysia. Kelompok ini mengkaji hubungan kedua negara secara kesuluruhan dan mempelajari masalah-masalah yang menjadi akar kian memanasnya hubungan antarkedua negara untuk disikapi pimpinan negara masing-masing.

Di samping berbagai isu tersebut, hubungan RI-Malaysia juga sering panas, terutama di kalangan rakyat Indonesia. Tidak sedikit kasus penyiksaan pekerja rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Malaysia. Pengusiran bahkan penyiksaan juga dilakukan aparat Malaysia terhadap tenaga kerja ilegal asal Indonesia.

Namun, di sisi lain, perusahaan Malaysia penampung pekerja ilegal asal Indonesia seperti mendapat angin. Perusahaan sering menahan atau tak membayar gaji dengan alasan status sebagai pekerja ilegal. (day/CAL)

Sent from Indosat BlackBerry powered by


Sumber : Kompas Cetak
Together We Stand Against Terrorism! KOMPAS.com support #IndonesiaUnite

Tuesday, September 08, 2009

:: Tari Pendet

Malaysia Tidak Pernah Mengklaim Tari Pendet
Ilustrasi
Selasa, 8 September 2009 | 01:56 WIB

MEDAN, KOMPAS.com--Pihak Konsulat Jenderal (Konjen) Malaysia di Medan menyatakan, Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim tari Pendet asal Bali dan Pulau Jemur, yang berada di Provinsi Riau milik mereka.

Konsul Jenderal Malaysia di Medan, Fauzi Omar, Senin mengatakan, wacana mengenai isu pengklaiman tari Pendet asal pulau Dewata dan termasuk Pulau Jemur yang berada di Provinsi Riau itu tidak benar.

Pihak swasta yang mempublikasikan Tarian asal Bali itu yang kemudian didokumentasikan melalui film dokumenter. "Pemerintah Malaysia tidak pernah membuat film dokumenter itu," katanya.

Pada film dokumenter yang dipublikasikan oleh pihak swasta itu, diakuinya memang ada tayangan yang menunjukkan tari Pendet, namun tidak ada mengatakan bahwa tarian itu milik Malaysia.

Ia menyesalkan sikap masyarakat di Indonesia khususnya di Sumatera Utara (Sumut) yang terkesan emosional ketika mendengarkan wacana yang dianggapnya belum tentu kebenarannya.

Mengenai tidak ada pihak Konjen Malaysia di Medan yang menerima para pengunjuk rasa menuntut klarifikasi masalah tarian itu, yang terjadi sepekan terakhir, ia mengaku tidak berada di Medan. "Bukan maksud untuk tidak menerima para pengunjuk rasa, saya sedang tidak berada di Medan," katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumut, Parlindungan Purba yang berada di Konjen Malaysia mengatakan, ada indikasi untuk merusak hubungan antara Indonesia - Malaysia dengan berkembangnya wacana tersebut, tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud.

Ia mengatakan, sebuah penghargaan jika budaya Indonesia dimainkan oleh negara-negara di dunia. "Asal jangan di klaim" katanya.

Pada tanggal 27 dan 28 Agustus lalu, pihak DPD RI telah melakukan pertemuan ke Malaysia secara resmi kepada pihak yang membuat tayangan film dokumenter tersebut.

Namun berdasarkan, penjelasan pembuat film dokumenter tersebut mengaku tidak pernah memasukkan tari Pendet ke dalam tayangan tersebut.

"Pihak Discovery Channel yang memasukkan adengan tari Pendet itu, dan juga telah meminta maaf atas kejadian itu," katanya.

Ia minta kepada masyarakat di Indonesia khususnya di Sumut agar tidak terpancing dengan isu yang dapat merusak hubungan baik antar kedua negara.



Sumber : Ant
Together We Stand Against Terrorism! KOMPAS.com support #IndonesiaUnite

Sunday, September 06, 2009

:: Krisis Identitas: Komen akhbar jiran kita

Malaysia Tenggelam dalam Krisis Identitas
Tari pendet, salah satu kekayaan seni budaya Indonesia yang diklaim Malaysia.
Minggu, 6 September 2009 | 07:17 WIB

AMBON, KOMPAS.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Asean Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia, Djauhari Oratmangun, menegaskan, Malaysia saat ini sedang mengalami krisis identitas.

"Malaysia sedang mengalami krisis identitas dan sedang dalam proses mencari jati diri," kata Dirjen Oratmangun, saat dikonfirmasi menyangkut klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, di Ambon, Sabtu (5/9).

Oratmangun yang berada di Ambon sejak Rabu (3/9) dalam rangka melakukan serangkaian pertemuan dengan Pemprov Maluku dan Pemkot Ambon, mengatakan 50 persen penduduk di Malaysia adalah keturunan Melayu dan sisanya dari China dan India. Ia menegaskan, orang Melayu saat ini sedang mencari identitas dirinya.

"Suka atau tidak suka, 50 persen orang Malaysia adalah keturunan Indonesia dan mereka membawa budaya itu ke sana," kata Oratmangun.

Begitu pun tari reog Ponorogo yang pernah menjadi masalah di Malaysia, sebenarnya juga diperkenalkan dan ditarikan oleh orang Ponorogo yang sudah bermukim di sana selama tiga generasi. Khusus tari pendet dari Bali yang diklaim sebagai kebudayaan Malaysia, Djauhari menerangkan, iklan tersebut diproduksi untuk promosi wisata negara itu, tetapi saat diproduksi tidak ada tari pendet.

Namun, Discovery Chanel yang menayangkan iklan tersebut kemudian menambahkan tari itu dalam iklannya.
"Kesalahannya adalah Discovery tidak menyebutkan bahwa tari pendet berasal dari Indonesia," kata Oratmangun.

Ia menegaskan Pemerintah Indonesia sudah mengirim surat protes yang diakui sebagai produk hukum internasional kepada Pemerintah Malaysia dan telah diterima.

"Mereka telah menerima klaim kalau itu (tari pendet) adalah milik kita. Penyelesaian secara diplomasi telah kita lakukan dan itu sudah cukup, apalagi Presiden Susilo Bambang Yudyohono juga telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Malaysia," ujarnya.

Lagi pula, kata Djauhari, Malaysia tidak pernah mengklaim secara resmi bahwa tari pendet adalah milik Malaysia, dan itu hanya klaim di internet. Djauhari Oratmangun meminta seluruh masyarakat Indonesia menilai persoalan ini secara positif bahwa produk budaya Indonesia ternyata sangat laku dijual.

"Ini membuktikan budaya kita sangat kuat dan terkenal di dunia internasional. Kelemahan orang Indonesia adalah jarang memelihara budayanya dan baru akan protes jika pihak luar mengklaim suatu produk budaya kita sebagai budaya mereka," katanya

Dia juga menyesalkan sikap media di Indonesia yang ramai memberitakan aksi protes terhadap budaya Indonesia yang diklaim negara tetangga, termasuk mempengaruhi masyarakat untuk melakukan ganyang terhadap negara tetangga itu.

Dia meminta media di tanah air lebih arif dan bijaksana memberikan masalah ini, mengingat presentase berita seni dan budaya di Indonesia di media nasional sangat jarang dimuat atau diulas secara luas. "Program acara atau berita untuk reservasi budaya kita sangat kurang di media nasional. Tetapi kalau budaya asing banyak," katanya.

Sent from Indosat BlackBerry powered by


Sumber : Antara

:: Pandangan seorang warga kita

Ganyang Malaysia?

SEPT 4 -- “Ganyang”, “hancur”, “jatuh” dan yang sama erti dengannya merupakan satu perkataan yang mudah untuk diungkap. Lagi-lagi jika ditiup dengan api kemarahan, kebencian, prejudis dan yang lebih murni, kekecewaan.

Di Malaysia sendiri, saya sering mendengar dan kadang kala meneriak juga kata-kata seperti “Hancur BN”, “Jatuh Mahathir” dan yang sebaya maksudnya apabila keadaan dan suasana memerlukan saya berbuat demikian.

Saya sekarang berada di Jakarta dan Insya Allah akan meraikan hari lebaran (Hari Raya di Malaysia) 1430 Hijrah di tanah seberang. Sungguhpun ini bukanlah kali pertama saya ke Indonesia, saya pasti tidak terlepas untuk dipertanyakan tentang hal-hal yang membangkitkan rasa panas dan sensitif di sini terhadap Malaysia. Daripada isu pencerobohan armada Tentera Laut Diraja Malaysia di Ambalat (tidak pasti sama ada ia benar terjadi) yang sedang di dalam peringkat rundingan kedua-dua negara, kes Manohara, kes Malaysia sebagai pengeksport pengganas, isu maling (gelar untuk pencuri) lagu-lagu dan adat budaya dari Indonesia (yang terkini isu tarian pendet dari Bali), penindasan terhadap TKI dan beberapa lagi.

Oleh kerana akan berada di sini agak lama juga, saya membuat keputusan untuk menyewa kosan, istilah untuk bilik yang disewakan secara kontrak mengikut tempoh-tempoh tertentu. Agak mengejutkan juga apabila teman saya di sini menasihatkan untuk tidak mendedahkan identiti bahawa saya orang Malaysia kerana mungkin nanti dicurigai sebagai pengganas (terima kasih kepada Noordin Mat Top) dan yang sama erti negatif dengannya. Hal ini tidak dapat ditutup kerana pemilik kosan ini meminta saya memberi salinan KTP (Kartu Pengenalan Diri), maka akhirnya saya memberitahu pemilik yang saya panggil “Ibu” asal usul saya.

Syukur semuanya positif walaupun bertalu-talu juga disiasat dan setelah itu dipersoalkan tindakan-tindakan yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia, mujur saya tidak memberi apa-apa respon selain mengangguk dan tidak cuba untuk membuka diskusi, takut-takut nanti dihalau keluar. Jelas yang tergambar di sini adalah sikap sebahagian masyarakat Indonesia yang senang terpedaya dan termakan emosi nasionalisme sempit yang disensaikan oleh media-media di Indonesia, kebebasan media yang dirayakan setelah kejatuhan Suharto. Layari sahaja forum-forum anti-Malaysia dan juga anti-Indonesia untuk melihat betapa parahnya kebencian yang sedang merebak luas ini.

Namun di satu sisi yang lain, teman-teman saya di kalangan penulis, aktivis NGO, pemuzik, pencinta sukan pemotoran, pencinta kembara, pekerja seks, teman tapi mesra (TTM) dan bermacam-macam lagi mengalu-alukan kedatangan saya ke tanah mereka dengan hati yang gembira dan terbuka. Mereka ini sama seperti masyarakat Indonesia lain, sering menonton berita yang hampir setiap masa menghiasi kaca televisyen dan membaca surat-surat khabar harian yang dijual di mana-mana hatta di persimpangan jalan. Namun apa yang membezakan kelompok ini dengan yang lain adalah mereka inginkan maklumat yang seimbang dan berdasarkan fakta berbanding semangat dan emosional bersuntik nasionalisme melampau.

Kelompok ini cuba untuk memahami isu sebenar dengan melayari internet dan bertukar-tukar informasi dan pandangan terutama melalui Facebook, membaca buku di toko-toko yang bersepah di sini dan lebih ekstrem, membeli tiket murah AIr Asia atau Tiger Airways untuk turun sendiri melihat realiti. Namun ini semua tidaklah pula mengurangkan semangat cintakan negara mereka, bahkan semangat itu akan lebih baik dan mendalam kerana didasari dengan maklumat dan ilmu pengetahuan.

Saya sebelum tiba di Jakarta menghabiskan beberapa hari di Singapura untuk menghadiri festival muzik indie terbesar di sana, Baybeats 2009. Festival yang diperkenalkan pada tahun 2001 ini menjadi medan berhimpun pemuzik terutama asal Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina untuk berkongsi tempat dan pentas yang sama untuk menghibur dan saling mempelajari. Pergaulan saya bersama beberapa pemuzik mereka memperlihatkan bahawa apabila sikap ingin tahu dan komunikasi telah dicipta, segala prejudis dan kebencian yang dimomok-momok akan perlahan-lahan hilang.

Malaysia ganyang Malaysia

Hal ini mengingatkan apa yang terjadi di negara kita apabila sejak beberapa tahun kebelakangan, bendera kebangsaan iaitu Jalur Gemilang semakin kurang dikibarkan tatkala menjelang hari kemerdekaan. Apa puncanya? Jawapannya pelbagai, ada yang berkata bendera kebangsaan telah dieksploitasi oleh parti pemerintah seolah-olah menjadi milik mereka kerana formula Matematiknya seperti ini, Jalur Gemilang = Negara Malaysia = Barisan Nasional. Maka rakyat yang tidak menyokong kerajaan memerintah membuat keputusan untuk tidak menzahirkan rasa patriotik yang sama rasa membuaknya. Ini hanya satu, banyak lagi.

Sambutan kemerdekaan tahun ini pula dihangatkan dengan banyak pendedahan di laman Facebook dan juga blog tentang bagaimana bendera Malaysia dan lagu kebangsaan kita diciplak. Hal ini boleh dibaca lanjut dengan melayari laman blog saudara Hishamuddin Rais di http://tukartiub.blogspot.com. Menariknya pendedahan-pendedahan yang disiarkan ini dilakukan oleh rakyat Malaysia sendiri dan turut dibincangkan secara meluas di kalangan rakan-rakan secara jenaka mahupun serius. Satu perkara yang boleh disimpul di sini adalah hal-hal sebeginilah yang akan membuatkan rasa kecintaan kepada sesuatu negara itu akan lebih asli dan tidak dipaksa-paksa kerana cinta ini, seperti cinta berlainan atau sesama jantina harus datang dengan satu rasa iaitu, kejujuran.

Musuh bersama

“Ganyang Malaysia” yang sering diteriak dengan emosi membuak itu tidak lain tidak bukan merupakan rentetan dari banyak perkara yang sering terjadi di antara dua negara yang mempunyai hubungan yang sangat dinamik. Munculnya gerakan Reformasi di Indonesia yang membawa kejatuhan Suharto dan diikuti di Malaysia setelah itu ekoran pemecatan DS Anwar Ibrahim sebagai Timbalan Perdana Menteri telah membawa hubungan kedua negara ini ke arah yang tidak menentu.

Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tun Dr. Mahathir secara bijak menggunakan imej-imej negatif demonstrasi dan keganasan yang terjadi di Indonesia untuk menakut-nakutkan rakyat Malaysia yang ingin membuat perubahan yang diseru oleh parti-parti pembangkang yang membentuk Barisan Alternatif. Walaupun kondisi ekonomi, politik dan sosial di Indonesia mempunyai banyak perbezaan, itu tidak pernah menghalang media-media arus perdana di Malaysia yang dikawal pemerintah untuk memperlecehkan gerakan ke arah demokrasi yang terjadi di sana.

Lebih sedekad berlalu, Indonesia secara relatif mempunyai demokrasi yang boleh dibanggakan dan ekonomi yang semakin berkembang walaupun romantisme era Suharto masih terdengar di sana-sini dan media-media di Malaysia juga sudah mulai berkurangan menulis mengenai Indonesia secara negatif. Lalu apa yang terjadi pula adalah sebaliknya apabila media-media di Indonesia menyerang secara bertubi-tubi dan emosional terhadap setiap kesilapan yang dilakukan Malaysia baik oleh warga atau negara. Memang diakui ada kesilapan yang dilakukan di pihak Malaysia walaupun ada yang boleh diperdebatkan terutama tentang adat dan budaya. Namun untuk meneriak “Ganyang Malaysia” dan mendendang kata-kata perang dengan mudah tanpa berfikir panjang memperlihatkan bagaimana warga mudah dibeli emosi dan semangat mereka untuk kepentingan yang dicurigai.

Banyak teman di Indonesia mengatakan situasi yang terjadi sekarang tidak akan bertambah buruk jikalau tidak dieksplotasi oleh pihak-pihak berkepentingan yang tidak berpuas hati dengan hal-hal politik domestik Indonesia. Tanpa niat menghina perasaan terluka sebahagian rakyat Indonesia yang benar-benar diinjak maruah mereka, saya bersetuju kerana hal sama juga yang terjadi di Malaysia apabila pihak-pihak tertentu terutama pemerintah sering mencari musuh bersama untuk rakyat dikhayalkan daripada hal sebenar, contoh Singapura.

Ada tercatat bahawa, “Ganyang Malaysia” yang dikepalai Sukarno dahulu gagal kerana didakwa ada unsur sabotaj dalaman dari Angkatan Darat mereka yang mendapat arahan daripada jeneral pada waktu itu, Soeharto. Jadi perang tidaklah semudah yang disangka terutama untuk rakyat biasa yang berkobar-kobar, kelak mati katak dan pemimpin sentiasa di ranjang menikmati malam.

Menerusi diskusi-diskusi di forum, kita akan berhadapan dengan kelompok cinta damai Malaysia-Indonesia yang kontradiksi apabila semangat kebencian diarahkan pula kepada orang Cina dan Yahudi terutamanya. Musuh bersama yang sering dicipta untuk kepentingan yang bermacam-macam, pastinya bukan cinta jenis ini yang diajar oleh Tuhan kepada umatnya.

Maka dengan itu, saya menyeru kepada semua rakyat terutama generasi muda Malaysia dan Indonesia untuk tidak tunduk kepada permainan media dan pemimpin-pemimpin politik yang tidak rasional. Beza kita dengan generasi terdahulu adalah kekayaan khazanah maklumat dan ilmu pengetahuan di depan mata, hanya tinggal kita mahu atau tidak.


busy

Wednesday, August 26, 2009

:: Renungan: Komen jiran kita

Public Blog Kompasiana
Didedikasikan untuk publik. Anda bisa bergabung menjadi penulis Kompasiana dengan terlebih dahulu registrasi. Cantumkan nama dan identitas jelas, bukan anonim. Pergunakan bahasa Indonesia yang benar dan sopan. Mohon tidak mempertentangkan SARA, memfitnah atau mendiskreditkan orang/lembaga, pornografi, dan beriklan. Para penulis disarankan menanggapi komentar pembaca. Tulisan atau opini yang bermanfaat dan mencerahkan akan tampil setelah dimoderasi.

Malaysia, What Kind Of Government Is That?
Oleh Opini Publik - 26 Augustus 2009 - Dibaca 1632 Kali -

Mas Abdi dan yang lainnya, saya ingin menyampaikan pemikiran saya sebagai WNI, mohon maaf kalo terlalu panjang. Menurut saya pribadi, negara MalasYa ini adalah negara teroris terselubung. Mereka selalu melakukan aksi teror kepada Indonesia. Mungkin jiwa induk koloninya penjajah Inggris sangat mengalir deras dalam darah Maloners.

Malaysia, di depan rakyat Indonesia, mulut mereka sangat manis dengan stigma “SERUMPUN” yang didengung-dengungkan sendiri oleh mereka. Pemerintah Malaysia seolah mau cuci tangan dengan iklan Enigmatic Malaysia, padahal iklan itu membawa nama negara. Kalo iklan itu berhasil mengelabui dunia, toh pemerintah Malaysia yang meraup untung. Jadi kalo ada warganya yang menginjak negara Malasya, kerajaan malesya akan diam juga? What kind of government is that?! Dimanakah tanggung jawab sebagai aparat negara yang mengatur negaranya? hahaha…

Dari keseluruhan iklan enigmatic, hanya berisi pembenaran-pembenaran klaim budaya. Yang lucunya mereka pede sekali menampilkan wayang kulit dan tari pendet. Hey come on, use your brain. Suku Jawa dan Bali bukan MELAYU yang kalian dengung-dengungkan serumpun itu. Dan perlu kalian ingat, pusat kerajaan melayupun di Indonesia, jadi jelas kalian hanya diwariskan nama Melayu saja tanpa ada peninggalan budaya! Budayawan Melayu Indonesia saja terheran-heran dengan aksi kalian malings. Malaysia sudah semakin kalap dengan krisis identitasnya, melayu malaysia mulai terpojok oleh ras Cina dan India yang memang lebih maju dan lebih cerdas dari bumi putera mereka.

Mereka mengatakan bahwa seolah-olah seluruh suku di Indonesia ini Melayu? Ini adalah pembenaran atas pencurian dan penjarahan mereka ataukah memang otak para malingsia ini yang seperti otak udang. Ntahlah… Tidak mengertikah kalian definisi rumpun? Cina, Jepang, Thailand, Korea adalah negara serumpun, dan lucunya tidak pernah Jepang mengatakan budaya barongsai adalah milik mereka, ato Thailand mengklaim tari Talchum korea sebagai budayanya meskipun ada warga korea di Thailand yang bermukim!

Mendengar komentar budaya melayu busuk Ummu Hani Abu Hasan mengenai klaim Tari Pendet: Sudah sewajarnye budaya Indonesia dilestarikan oleh MalesYa, kerana kite ni serumpun??? Kalo bukan kite, siape lagi nak menjage??? Kite liat bangsa barat sudah mulai tertarik dengan budaye Indonesia dan nak ambil????

Menganalisa komen busuk ato bodoh Ummu, yang jadi pertanyaan saya adalah kok mereka merasa sekali bagian Indonesia sehingga wajib menjaga budaya orang. Istilah perlukah kita menjaga rumah tetangga kita??? Hei Malaysia, kalian bukan Indonesia! kalian benci sekali terhadap orang Indonesia yang kalian beri sebutan konotasi dengan INDON dan yang sering kalian lecehkan dan aniaya di negara kalian terutama TKI, tetapi mengapa kalo bicara soal pencurian budaya Indon, kalian merasa kalian satu dengan Indonesia?

Kalo kita artikan lebih luas, pernyataan Ummu semakin jelas tersirat kalo mereka sudah mulai ketakutan dengan ketertarikan turis asing dengan budaya Indonesia terutama dengan Bali yang dinobatkan sebagai pulau nomer satu di dunia! Saya juga mengaitkan klaim ini dengan 2 kali pengeboman di Bali yang didalangi oleh 2 orang warga malasya! Kita bisa menarik benang merah dari runutan-runutan kejadian ini. Dan ingat bom Bali 1 itu terjadi tahun 2002, itu bersamaan dengan klaim Malasya atas sipadan-ligitan Indonesia. Untuk memecah konsentrasi pemerintah mengenai upaya mempertahankan sipadan-ligitan. Dan sekarang tahun 2009, di kala Malesya lagi-lagi mengklaim blok perairan Ambalat, marak lagi aksi bom dan terorisme oleh kawanan Nurdin Mat Top.

Saya semakin yakin bahwa Nurdin M Top dan Dr Azhari adalah intelijen ato utusan Malesya untuk mengobrak-abrik Indonesia. Dulu pada masa Soekarno, saat Malesya mulai coba-coba dengan perbatasan di kalimantan, Bung Karno menyerukan “Ganyang Malaysia” dan para TNI sudah mulai menyerbu Malaysia, tiba-tiba meletus pemberontakan PKI sehingga pasukan kita ditarik mundur untuk membereskan negara yang kacau, saya yakin juga gerakan PKI ini ulah Malaysia dan kroninya.Bung Karno bapak bangsa kita sangat peka dan saya yakin dia tahu wujud asli Malaysia apakah kawan ato lawan.

Kita juga tidak boleh melupakan aksi militer Militer Malesya yang merekrut ribuan WNI d perbatasan untuk menjadi Askar Wataniah yakni untuk tentara cadangan yang melindungi aksi-aksi pencurian kayu dan ikan dari Indonesia serta untuk menggeser tapal batas negara. Jika suatu hari terjadi konflik fisik maka Askar Wataniahlah yang akan diadu dengan TNI yang adalah sodaranya sendiri sesama rakyat Indonesia. Jika ada korban jiwa toh yang mati bukan WN malesya melainkan orang Indonesia. Politik adu domba ini juga yang dilakukannya dalam kegiatan terorisme, dengan merekrut bomber LUGU Indonesia untuk mati demi sesuatu yang diajarkan mereka sebagai pemahaman ‘Jihad’ yang keblinger itu. Kalo memang ‘jihad ala nurdin’ itu bisa langsung masuk surga bertemu dengan 7 bidadari, mengapa si nurdin ga jadi ‘pengantin’ duluan. Jelas-jelas si nurdin ini tukang kawin kok! masakan ga tergiur dengan 7 bidadari.Ini juga bukan salah rakyat Indonesia di pedesaan yang pengetahuannya minim sehingga mudah dikecoh. Ini juga meminta perhatian pemerintah agar pendidikan gratis benar-benar menjangkau seluruh pelosok Indonesia dan mulailah untuk desentralisasi pembangunan fasilitas umum di daerah-daerah, jangan hanya Jakarta saja yang semakin sumpek!

Mohon anggaaran pertahanan, pendidikan dan kebudayaan benar-benar dinomersatukan dan benar-benar digunakan dengan bijak supaya manfaat. Proporsi 3 departemen ini harus lebih besar dari yang lain.

Saya sangat setuju dengan Bapak Yusron Ihza Mahendra yang juga orang asli Melayu bahwa bangsa Malasya ini adalah bangsa umang-umang. Dia gak punya baju, terus ngeliat baju/rumah orang lain bagus, pake akh, ketemu lagi bagus lagi, caplok lagi!

Harapan saya pribadi, pemerintah Indonesia sudahlah tidak usah lagi percaya dengan mulut manis malaysia yang setiap ketahuan berbuat culas selalu saja meminta maaf tetapi keesokan hari melakukan kesalahan itu kembali. Putuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia karena negara malaysia adalah musuh dalam selimut yang selalu menggerogoti kita secara sembunyi-sembunyi. Boikot produk-produk Malaysia, seperti Air Asia yang jelas-jelas melesukan maskapai dalam negeri dengan harga tiket murahnya! Dephub, tolong dikaji regulasi Air Asia yang sudah merajalela dengan membuka jadwal penerbangan ke seluruh wilayah Indonesia, saya rasa ini juga ada kepentingan khusus berkenaan dengan catut budaya dari mereka.

Untuk masalah TKI, ini tantangan depnaker memang besar, tapi justru di sanalah kredibilitas depnaker dipertaruhkan. mari kita galakkan lagi program transmigrasi dengan membangun lahan pertanian. Menggalang usaha kecil dan menengah. Semuanya pasti bisa kita lakukan, jika kita memang MAU jika ada niat, apapun pasti bisa dengan disertai dengan Ridho Allah.
Jayalah Indonesia.

Gelar Komentar Riza –>Abdi Dharma untuk postingan Kejahatan Malaysia Terhadap Indonesia, Paling Lengkap Di Seluruh Dunia

Wednesday, August 12, 2009

:: Debus diharamkan

MUI Keluarkan Fatwa Debus Haram
Rabu, 12 Agustus 2009 , 14:27:00
SERANG, (PRLM).- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia se-Jawa dan Lampung mengeluarkan fatwa bahwa kesenian tradisional debus dengan menggunakan bantuan jin, setan dan mantera-mantera, hukumnya adalah haram karena termasuk kategori sihir. Ketua MUI Provinsi Banten bidang Ormas dan Hubungan Luar Negeri K.H. Aminuddin Ibrahim di Serang, Rabu (12/8), mengatakan, dalam rakorda MUI se-Jawa dan Lampung tersebut dibahas bahwa debus dan atraksi-atraksi sejenisnya dalam pandangan Islam ada yang dibolehkan namun ada yang tidak dibolehkan.

Menurut Aminuddin , di antaranya yang tidak dibolehkan tersebut adalah atraksi-atraksi yang menggunakan bantuan tenaga jin, setan atau mantera-mantera karena termasuk sihir dan perbuatan syirik termasuk didalamnya debus yang menggunakan kekuatan tersebut maupun dengan ayat-ayat Quran yang dibolak-balik.
"Tetapi kalau kemampuan itu diperoleh dari latihan keterampilan dan olah tubuh tidak ada masalah asal jangan dicampur-campur juga," katanya, seperti dikutip "Antara".

Aminuddin mengatakan, fatwa tersebut bukan bertujuan menghilangkan nilai seni dan budaya dari debus yang selama ini menjadi ciri khas atau ikon suatu daerah seperti di Banten, tetapi berlaku untuk di semua daerah mana pun juga, sepanjang debus atau atraksi sejenis menggunakan kekuatan-kekuatan setan, jin atau mantera-mantera.

Dalam fatwa tersebut, MUI menimbang bahwa debus serta hal-hal lain yang sejenis akhir-akhir ini semakin merebak dengan bebas dan tersiar secara luas di tengah-tengah masyarakat, baik melalui media cetak dan elektronik, maupun media komunikasi modern.

Dengan demikian, dalam kenyataan debus telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, terutama generasi muda pada akidah Islamiyah maupun terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beradab dan berilmu pengetahuan.

Selain itu debus sudah menjadi ikon suatu daerah dan sebagian besar umat Islam dan bangsa Indonesia, baik masyarakat umum maupun para penyelenggara negara, dianggap belum memberikan perhatian maksimal dan belum mengetahui secara tepat pandangan Islam terhadap debus serta hal-hal terkait lainnya. (A-147)***
.............................................................................
Persoalan: Adakah DEBUS di Indonesia bermaksud sama dengan DABUS di Malaysia???