Showing posts with label diplomatik. Show all posts
Showing posts with label diplomatik. Show all posts

Saturday, September 18, 2010

:: Hubungan RI-Malaysia: kata jiran serumpun



Hubungan RI-Malaysia kelihatannya kukuh dan utuh sementelah menjaga hubungan keahlian ASEAN selama ini. Namun, sesekali ada pihak terasa hati berikutan insiden terkini dan terdahulu. Banyak pihak melihat bahawa penangkapan nelayan Malaysia oleh pihak negara jiran dan penahanan penguatkuasa kelautan negara jiran oleh pihak Malaysia sebagai cetusan dari beberapa persoalan yang telah membarah sebelum ini.

Berikut adalah cetusan dan luahan rasa hati antara ratusan juta penduduk negara sejiran dan serumpun....




2010-09-16
Perang Bukan Jalan Terbaik

Situasi politik terkait hubungan Indonesia-Malaysia memanas saat ini, menjadi sorotan media televisi nasional melalui penayangan aksi demo anti-Malaysia di beberapa daerah di Indonesia. Cuplikan rutin pidato mantan Presiden Indonesia Soekarno yang karismatik dan bergelora karena mampu membakar semangat pemuda Indonesia untuk siap berperang mengganyang Malaysia demi mempertahankan kedaulatan NKRI.

Pengaruh pidato mantan Presiden Soekarno betul-betul mumpuni, meskipun sudah tersimpan berpuluh tahun, kemudian ditayangkan kembali melalui televisi ternyata memiliki daya magis yang luar biasa bagi generasi muda. Terbukti secara spontan anak kami terkecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar berceloteh “Kita mau perang ya, Ma?”

Seketika mendengar celoteh pendek anak yang masih polos itu, jantung rasanya berdetak keras dan adrenalin merambat naik, membayangkan risiko perang yang bakal terjadi antara Indonesia-Malaysia, mengingat dampak perang akan timbul banyak korban harta, jiwa, dan raga yang harus dipertaruhkan oleh kedua belah pihak. Apabila hubungan kedua negara Indonesia-Malaysia tidak dikelola dengan baik, pada masa depan bisa timbul pecah konfrontasi terbuka, mengingat publik di Indonesia sangat reaktif atas manuver politik Malaysia.

Di sisi lain, ada perbedaan dalam menyikapi krisis Indonesia-Malaysia, di mana Pemerintah Indonesia tampaknya lebih lunak, namun sebagian pemuda Indonesia mulai memendam amarah dan dendam kesumat atas arogansi Malaysia, khususnya sejak klaim beberapa mahakarya bangsa Indonesia oleh Malaysia kepada dunia internasional. Bagi rakyat Indonesia, klaim Malaysia atas tari pendet, Bali, lagu Rasa Sayange, Maluku, reog Pono- goro, dan angklung Sunda dianggap tidak masuk akal, keterlaluan dan mengusik nasionalisme bangsa.

Di sinilah letak perbedaan cara pandang rakyat Indonesia-Malaysia menyikapi krisis politik yang berkembang di antara kedua negara. Rakyat Malaysia melihat krisis politik sebagai urusan pemerintah dan hanya dianggap sebuah kesalahpahaman, sedangkan bagi rakyat Indonesia yang mengalami proses revolusi memperjuangkan kemerdekaan, krisis politik dianggap sebagai bentuk tantangan Malaysia yang mengganggu rasa nasionalisme Indonesia.

Untuk menjadi bangsa yang besar dan dihormati bangsa lain memang tidak mudah dan butuh proses, setiap pemimpin bangsa Indonesia yang muncul tentu akan diuji kemampuannya guna mengatasi krisis politik terkait klaim-klaim Malaysia.

Bersatu menolak klaim sepihak Malaysia atas kedaulatan Indonesia memang tepat, karena bisa jadi Malaysia seolah-olah sengaja menantang langsung kepada rakyat Indonesia. Namun, percayalah bahwa perang bukan jalan terbaik untuk mengatasi krisis politik Indonesia-Malaysia, apalagi tidak ada sejarahnya rakyat Malaysia itu berani berperang meskipun memiliki peralatan militer secanggih apa pun. Ujung-ujungnya bisa ditebak encik-encik Malaysia akan mundur teratur kalau konfrontasi langsung, kecuali tentara Inggris membelanya sebagai bagian negara persemakmuran, sehingga langkah diplomasi akan lebih diprioritaskan.

Permasalahan kedua negara baik yang menyangkut wilayah perbatasan dan tenaga kerja Indonesia, sebaiknya segera dilakukan melalui perundingan formal disertai lobi informal ke pusat kekuasaan kedua negara dengan cara santun.

Gracelina
Jl Boulevard Gading Barat Komplek Kelapa Gading,
Jakarta Utar
a


Sunday, September 05, 2010

:: Ketika mendengar pidato SBY





RI - MALAYSIA
Ketika Mendengar Pidato SBY
Minggu, 5 September 2010 | 06:02 WIB


KOMPAS/PAT HENDRANTO
Hubungan baik Indonesia dengan Singapura tetap terjaga setelah hukuman mati terhadap dua personel KKO dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. Bahkan, pada tanggal 28 Mei 1973 Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menaburkan bunga pada makam Usman dan Harun di Jakarta. Usman dan Harun adalah dua personel KKO yang dihukum mati.
TERKAIT:



KOMPAS.com - Ketika mendengar pidato yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9), banyak kalangan yang kecewa. Selain agak terlambat, Presiden pun dianggap bersikap terlalu lembek terhadap Malaysia.

Dalam pidatonya, Presiden mengatakan, ia turut merasakan keprihatinan, kepedulian, bahkan emosi yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Dan, apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang dan ke depan ini sesungguhnya juga cerminan dari keprihatinan kita.

Presiden, dalam kesempatan itu, juga mengajak masyarakat untuk menjauhi tindakan berlebihan, termasuk aksi kekerasan yang hanya akan menambah masalah yang ada.

Menurut Presiden, kedaulatan negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Ditekankan oleh Presiden bahwa pemerintah sangat memahami kepentingan itu dan bekerja sungguh-sungguh untuk menjaga serta menegakkannya.

”Namun, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat selalu terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah,” ujarnya.

Presiden juga menyinggung banyak hal lain dalam pidatonya. Akan tetapi, apa pun alasan yang dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono dalam pidatonya, pada intinya adalah ia menegaskan bahwa ia menempatkan hubungan baik dengan Malaysia sebagai hal yang penting.

Oleh karena itu, persoalan yang terjadi dengan Malaysia pada saat ini harus dijaga agar tidak sampai mengganggu hubungan baik kedua negara.

Situasi yang hampir sama

Situasi yang dialami oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat ini, hampir sama dengan apa yang dihadapi oleh Presiden Soeharto dengan Singapura pada tahun 1968 atau 42 tahun silam. Pada saat itu Singapura memutuskan akan menghukum mati dua personel Korps Komando (KKO), yakni Usman bin Moh Ali dan Harun bin Said, yang tertangkap di negara itu.

Berbagai kalangan di Indonesia, terutama KKO (kini Korps Marinir), langsung bereaksi dengan sangat keras. Namun, Presiden Soeharto langsung maju ke depan dan mengambil kendali.

Soeharto secara terbuka meminta kepada Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew untuk memberikan keringanan hukuman kepada kedua personel KKO itu. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Singapura. Menurut pemerintah negara pulau itu, kedua personel KKO tersebut melakukan kegiatan mata-mata serta subversi, dan ancaman hukumannya adalah hukuman mati dengan cara digantung.

Penolakan Singapura itu membuat berbagai kalangan di Indonesia geram dan mendorong pemerintah untuk menyerang Singapura. Dan, dorongan itu menjadi semakin besar ketika pada 17 Oktober 1968 pukul 06.00 Singapura akhirnya melaksanakan hukuman mati tersebut.

Kepulangan jenazah kedua personel KKO itu ke Tanah Air disambut secara besar-besaran dan menjadikan kegeraman terhadap Singapura seperti mendapatkan amunisi, bagai api disiram dengan bensin.

Ketegangan hubungan antara Indonesia dan Singapura meningkat hingga ke titik yang terburuk. Kedutaan Besar Singapura di Jakarta yang terletak di Jalan Indramayu Nomor 28 (waktu itu) diserbu dan dirusak oleh massa mahasiswa dan pemuda. Demikian juga tempat tinggal staf Kedutaan Besar Singapura di Jalan Maluku Nomor 27 dan Jalan Jambu Nomor 15.

Akan tetapi, pada saat itu, Presiden Soeharto tetap menanggapi hukuman mati terhadap dua personel KKO itu dengan kepala dingin dan memilih untuk tidak memenuhi dorongan dari berbagai kalangan untuk menyerang Singapura.

ASEAN, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara, baru didirikan satu tahun sebelumnya, 8 Agustus 1967. Dan, salah satu tujuan pembentukan ASEAN adalah untuk mewujudkan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, makmur, dan bebas dari campur tangan kekuatan asing dari luar kawasan.

Melalui ASEAN, Presiden Soeharto ingin menghapuskan citra ekspansionis yang melekat pada Indonesia sebagai akibat dari kebijakan ”Ganyang Malaysia” yang digagas oleh Presiden Soekarno.

Dengan bergabungnya Indonesia di ASEAN, Presiden Soeharto ingin menunjukkan kepada negara-negara tetangganya bahwa Indonesia adalah negara yang cinta damai.

Ketegangan dengan Singapura itu menjadi ujian bagi Indonesia untuk membuktikan diri kepada negara-negara tetangganya bahwa Indonesia benar-benar sudah berubah.

Pada tahun 1960-an negara-negara tetangga, yang dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk sangat kecil, merasa sangat khawatir dengan Indonesia, tetangga raksasanya. Belum lagi, pada masa itu Indonesia memiliki angkatan bersenjata yang terkuat di Asia Tenggara.

Kekhawatiran terhadap Indonesia membuat negara-negara tetangga meminta perlindungan kepada kekuatan-kekuatan asing dari luar kawasan, yang pada masa itu hadir di kawasan.

Dalam kaitan itulah, cara Indonesia menangani ketegangan dengan Singapura itu akan berpengaruh besar terhadap bagaimana negara-negara tetangga kecil itu melihat (mempersepsikan) Indonesia.

Presiden Soeharto sangat memahami situasi itu. Itulah sebabnya Soeharto memilih untuk menghindari perang dan menyelesaikan persoalan dengan Singapura melalui jalur-jalur diplomatik.

Berkat kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh Presiden Soeharto itulah citra Indonesia yang ekspansionis berangsur- angsur hilang tak berbekas.

Dalam 30 tahun terakhir bisa dikatakan bahwa kawasan Asia Tenggara telah berkembang menjadi kawasan yang damai, makmur, dan bebas dari kekuatan asing dari luar kawasan.

Posisi awal

Kini, 42 tahun sesudahnya, Indonesia kembali dihadapkan pada posisi yang sama. Cara Indonesia menangani ketegangan dengan Malaysia akan menentukan bukan hanya pandangan negara tetangga terhadap Indonesia, melainkan juga pandangan dunia internasional.

Negara-negara tetangga yang lain mengikuti dengan saksama bagaimana Indonesia menangani dan menyelesaikan ketegangannya dengan Malaysia. Jika Indonesia tidak dapat mengendalikan diri dan memilih untuk menggunakan kekerasan terhadap Malaysia, dapat dipastikan Malaysia dan negara-negara tetangga lainnya akan mengundang kekuatan luar kawasan kembali ke kawasan ini.

Dan, jika itu yang terjadi, upaya negara-negara ASEAN, terutama Indonesia, yang selama lebih dari 30 tahun telah menjadikan kawasan Asia Tenggara bebas dari kekuatan asing, menjadi terancam. Dan, kekuatan asing akan diundang kembali ke kawasan ini.

Apalagi Five Powers Defence Arrangements, yakni Pengaturan Pertahanan Lima Negara antara Malaysia, Singapura, Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang ditandatangani pada tahun 1971, belum pernah dicabut.

Setelah kehilangan pangkalan militernya di Filipina pada tahun 1990-an, Armada VII Amerika Serikat seperti kehilangan pijakan di Asia Tenggara. Dalam kaitan itulah, Amerika Serikat mendekati Singapura dan meminta izin untuk menggunakan salah satu pangkalan laut Singapura untuk kepentingan logistik dan perawatan kapal bagi Armada VII. Permintaan Amerika Serikat tersebut segera dipenuhi oleh Singapura.

Jika Singapura merasa keberadaan (eksistensi) negaranya terancam oleh Indonesia, bukan tidak mungkin negara itu akan mengizinkan militer Amerika Serikat untuk hadir lebih dalam.

Sebagai negara yang hidup bertetangga, gesekan mudah sekali timbul. Adalah tugas Indonesia dan setiap negara tetangga untuk menjaga agar gesekan itu tidak berkembang menjadi tidak terkendali dan mengarah kepada perang terbuka.

Namun, hal itu jangan diartikan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap tegas terhadap negara tetangganya jika gesekan terjadi.

Protes keras dimungkinkan, dan rasa tidak suka juga dapat diperlihatkan asalkan dilakukan melalui jalur-jalur diplomatik. Penarikan duta besar pun dimungkinkan untuk dilakukan asalkan semua tindakan itu dilakukan secara terukur.

Sayangnya, seperti biasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kurang tegas dalam bersikap dan kurang cepat dalam memperlihatkan sikap bahwa ia membela kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Melancarkan perang dengan Malaysia bukanlah tindakan yang bijaksana. Selain memerlukan dana yang sangat besar, juga akan banyak orang yang akan kehilangan nyawanya dengan percuma. Jangan hanya karena merasa lebih besar dan lebih kuat lalu menganggap bahwa perang akan dimenangi dengan mudah.

Bahkan, Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya pun sulit mengalahkan Irak yang dalam hitung-hitungan di atas kertas dapat dikalahkan dengan mudah.

Relakah kita membiarkan putra-putra Indonesia kehilangan nyawa di medan perang untuk sebuah urusan yang sesungguhnya dapat diselesaikan melalui jalur-jalur diplomatik? (James Luhulima)





Sunday, September 06, 2009

:: Pandangan seorang warga kita

Ganyang Malaysia?

SEPT 4 -- “Ganyang”, “hancur”, “jatuh” dan yang sama erti dengannya merupakan satu perkataan yang mudah untuk diungkap. Lagi-lagi jika ditiup dengan api kemarahan, kebencian, prejudis dan yang lebih murni, kekecewaan.

Di Malaysia sendiri, saya sering mendengar dan kadang kala meneriak juga kata-kata seperti “Hancur BN”, “Jatuh Mahathir” dan yang sebaya maksudnya apabila keadaan dan suasana memerlukan saya berbuat demikian.

Saya sekarang berada di Jakarta dan Insya Allah akan meraikan hari lebaran (Hari Raya di Malaysia) 1430 Hijrah di tanah seberang. Sungguhpun ini bukanlah kali pertama saya ke Indonesia, saya pasti tidak terlepas untuk dipertanyakan tentang hal-hal yang membangkitkan rasa panas dan sensitif di sini terhadap Malaysia. Daripada isu pencerobohan armada Tentera Laut Diraja Malaysia di Ambalat (tidak pasti sama ada ia benar terjadi) yang sedang di dalam peringkat rundingan kedua-dua negara, kes Manohara, kes Malaysia sebagai pengeksport pengganas, isu maling (gelar untuk pencuri) lagu-lagu dan adat budaya dari Indonesia (yang terkini isu tarian pendet dari Bali), penindasan terhadap TKI dan beberapa lagi.

Oleh kerana akan berada di sini agak lama juga, saya membuat keputusan untuk menyewa kosan, istilah untuk bilik yang disewakan secara kontrak mengikut tempoh-tempoh tertentu. Agak mengejutkan juga apabila teman saya di sini menasihatkan untuk tidak mendedahkan identiti bahawa saya orang Malaysia kerana mungkin nanti dicurigai sebagai pengganas (terima kasih kepada Noordin Mat Top) dan yang sama erti negatif dengannya. Hal ini tidak dapat ditutup kerana pemilik kosan ini meminta saya memberi salinan KTP (Kartu Pengenalan Diri), maka akhirnya saya memberitahu pemilik yang saya panggil “Ibu” asal usul saya.

Syukur semuanya positif walaupun bertalu-talu juga disiasat dan setelah itu dipersoalkan tindakan-tindakan yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia, mujur saya tidak memberi apa-apa respon selain mengangguk dan tidak cuba untuk membuka diskusi, takut-takut nanti dihalau keluar. Jelas yang tergambar di sini adalah sikap sebahagian masyarakat Indonesia yang senang terpedaya dan termakan emosi nasionalisme sempit yang disensaikan oleh media-media di Indonesia, kebebasan media yang dirayakan setelah kejatuhan Suharto. Layari sahaja forum-forum anti-Malaysia dan juga anti-Indonesia untuk melihat betapa parahnya kebencian yang sedang merebak luas ini.

Namun di satu sisi yang lain, teman-teman saya di kalangan penulis, aktivis NGO, pemuzik, pencinta sukan pemotoran, pencinta kembara, pekerja seks, teman tapi mesra (TTM) dan bermacam-macam lagi mengalu-alukan kedatangan saya ke tanah mereka dengan hati yang gembira dan terbuka. Mereka ini sama seperti masyarakat Indonesia lain, sering menonton berita yang hampir setiap masa menghiasi kaca televisyen dan membaca surat-surat khabar harian yang dijual di mana-mana hatta di persimpangan jalan. Namun apa yang membezakan kelompok ini dengan yang lain adalah mereka inginkan maklumat yang seimbang dan berdasarkan fakta berbanding semangat dan emosional bersuntik nasionalisme melampau.

Kelompok ini cuba untuk memahami isu sebenar dengan melayari internet dan bertukar-tukar informasi dan pandangan terutama melalui Facebook, membaca buku di toko-toko yang bersepah di sini dan lebih ekstrem, membeli tiket murah AIr Asia atau Tiger Airways untuk turun sendiri melihat realiti. Namun ini semua tidaklah pula mengurangkan semangat cintakan negara mereka, bahkan semangat itu akan lebih baik dan mendalam kerana didasari dengan maklumat dan ilmu pengetahuan.

Saya sebelum tiba di Jakarta menghabiskan beberapa hari di Singapura untuk menghadiri festival muzik indie terbesar di sana, Baybeats 2009. Festival yang diperkenalkan pada tahun 2001 ini menjadi medan berhimpun pemuzik terutama asal Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina untuk berkongsi tempat dan pentas yang sama untuk menghibur dan saling mempelajari. Pergaulan saya bersama beberapa pemuzik mereka memperlihatkan bahawa apabila sikap ingin tahu dan komunikasi telah dicipta, segala prejudis dan kebencian yang dimomok-momok akan perlahan-lahan hilang.

Malaysia ganyang Malaysia

Hal ini mengingatkan apa yang terjadi di negara kita apabila sejak beberapa tahun kebelakangan, bendera kebangsaan iaitu Jalur Gemilang semakin kurang dikibarkan tatkala menjelang hari kemerdekaan. Apa puncanya? Jawapannya pelbagai, ada yang berkata bendera kebangsaan telah dieksploitasi oleh parti pemerintah seolah-olah menjadi milik mereka kerana formula Matematiknya seperti ini, Jalur Gemilang = Negara Malaysia = Barisan Nasional. Maka rakyat yang tidak menyokong kerajaan memerintah membuat keputusan untuk tidak menzahirkan rasa patriotik yang sama rasa membuaknya. Ini hanya satu, banyak lagi.

Sambutan kemerdekaan tahun ini pula dihangatkan dengan banyak pendedahan di laman Facebook dan juga blog tentang bagaimana bendera Malaysia dan lagu kebangsaan kita diciplak. Hal ini boleh dibaca lanjut dengan melayari laman blog saudara Hishamuddin Rais di http://tukartiub.blogspot.com. Menariknya pendedahan-pendedahan yang disiarkan ini dilakukan oleh rakyat Malaysia sendiri dan turut dibincangkan secara meluas di kalangan rakan-rakan secara jenaka mahupun serius. Satu perkara yang boleh disimpul di sini adalah hal-hal sebeginilah yang akan membuatkan rasa kecintaan kepada sesuatu negara itu akan lebih asli dan tidak dipaksa-paksa kerana cinta ini, seperti cinta berlainan atau sesama jantina harus datang dengan satu rasa iaitu, kejujuran.

Musuh bersama

“Ganyang Malaysia” yang sering diteriak dengan emosi membuak itu tidak lain tidak bukan merupakan rentetan dari banyak perkara yang sering terjadi di antara dua negara yang mempunyai hubungan yang sangat dinamik. Munculnya gerakan Reformasi di Indonesia yang membawa kejatuhan Suharto dan diikuti di Malaysia setelah itu ekoran pemecatan DS Anwar Ibrahim sebagai Timbalan Perdana Menteri telah membawa hubungan kedua negara ini ke arah yang tidak menentu.

Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tun Dr. Mahathir secara bijak menggunakan imej-imej negatif demonstrasi dan keganasan yang terjadi di Indonesia untuk menakut-nakutkan rakyat Malaysia yang ingin membuat perubahan yang diseru oleh parti-parti pembangkang yang membentuk Barisan Alternatif. Walaupun kondisi ekonomi, politik dan sosial di Indonesia mempunyai banyak perbezaan, itu tidak pernah menghalang media-media arus perdana di Malaysia yang dikawal pemerintah untuk memperlecehkan gerakan ke arah demokrasi yang terjadi di sana.

Lebih sedekad berlalu, Indonesia secara relatif mempunyai demokrasi yang boleh dibanggakan dan ekonomi yang semakin berkembang walaupun romantisme era Suharto masih terdengar di sana-sini dan media-media di Malaysia juga sudah mulai berkurangan menulis mengenai Indonesia secara negatif. Lalu apa yang terjadi pula adalah sebaliknya apabila media-media di Indonesia menyerang secara bertubi-tubi dan emosional terhadap setiap kesilapan yang dilakukan Malaysia baik oleh warga atau negara. Memang diakui ada kesilapan yang dilakukan di pihak Malaysia walaupun ada yang boleh diperdebatkan terutama tentang adat dan budaya. Namun untuk meneriak “Ganyang Malaysia” dan mendendang kata-kata perang dengan mudah tanpa berfikir panjang memperlihatkan bagaimana warga mudah dibeli emosi dan semangat mereka untuk kepentingan yang dicurigai.

Banyak teman di Indonesia mengatakan situasi yang terjadi sekarang tidak akan bertambah buruk jikalau tidak dieksplotasi oleh pihak-pihak berkepentingan yang tidak berpuas hati dengan hal-hal politik domestik Indonesia. Tanpa niat menghina perasaan terluka sebahagian rakyat Indonesia yang benar-benar diinjak maruah mereka, saya bersetuju kerana hal sama juga yang terjadi di Malaysia apabila pihak-pihak tertentu terutama pemerintah sering mencari musuh bersama untuk rakyat dikhayalkan daripada hal sebenar, contoh Singapura.

Ada tercatat bahawa, “Ganyang Malaysia” yang dikepalai Sukarno dahulu gagal kerana didakwa ada unsur sabotaj dalaman dari Angkatan Darat mereka yang mendapat arahan daripada jeneral pada waktu itu, Soeharto. Jadi perang tidaklah semudah yang disangka terutama untuk rakyat biasa yang berkobar-kobar, kelak mati katak dan pemimpin sentiasa di ranjang menikmati malam.

Menerusi diskusi-diskusi di forum, kita akan berhadapan dengan kelompok cinta damai Malaysia-Indonesia yang kontradiksi apabila semangat kebencian diarahkan pula kepada orang Cina dan Yahudi terutamanya. Musuh bersama yang sering dicipta untuk kepentingan yang bermacam-macam, pastinya bukan cinta jenis ini yang diajar oleh Tuhan kepada umatnya.

Maka dengan itu, saya menyeru kepada semua rakyat terutama generasi muda Malaysia dan Indonesia untuk tidak tunduk kepada permainan media dan pemimpin-pemimpin politik yang tidak rasional. Beza kita dengan generasi terdahulu adalah kekayaan khazanah maklumat dan ilmu pengetahuan di depan mata, hanya tinggal kita mahu atau tidak.


busy