Showing posts with label ws rendra. Show all posts
Showing posts with label ws rendra. Show all posts

Saturday, August 08, 2009

:: W.S. Rendra - 1

Rendra: Saya Sangat Bahagia


Jenazah almarhum penyair WS Rendra diusung menuju masjid untuk dishalatkan sebelum dimakamkan di padepokan seni Bengkel Teater di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8). Rendra meninggal Kamis malam pada usia 74 tahun akibat serangan jantung.
Sabtu, 8 Agustus 2009 | 05:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum meninggal, WS Rendra sempat mengucapkan kata terakhir kepada istrinya, Ken Zuraida. ”’Saya sangat bahagia.’ Itu kata terakhir Mas Willy (panggilan Rendra),” ujar Ken seusai pemakaman Rendra di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8) siang.

Kata-kata itu diucapkan Rendra sekitar pukul 20.00. Setelah itu, menurut Ken, tangan Rendra terasa dingin dan gemetar. Padahal, sebelumnya, Rendra sangat ceria dan bercerita banyak di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, tempat penyair itu dirawat.

”Ia bercerita satu jam lebih, seperti tak bisa dihentikan. Itulah kata-kata terakhirnya, ia sangat bahagia,” kata Ken sambil sesenggukan.

Sastrawan Danarto yang sempat menengok Rendra saat dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, juga menangkap semangat hidup Rendra yang kuat. ”Saya bawakan dia buah kesukaannya, stroberi dan anggur. Ia berkata, dua kali didatangi almarhum Mbak Narti (Sunarti, istri Rendra). Ia bilang, ’Kelihatannya ajal sudah dekat.’”

Warga mengantar

Ribuan orang mengantar kepergian Rendra yang dimakamkan di kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung-Citayam, Depok, Jumat siang.

Mereka berdatangan sejak mendengar kabar Rendra meninggal di RS Mitra Keluarga, Depok (bukan Kelapa Gading, seperti ditulis Kompas, 7/8), Kamis sekitar pukul 22.10. Jenazah Rendra sempat disemayamkan di rumah anak perempuannya, Clara Shinta, di Perumahan Pesona Khayangan, Depok.

Jenazah Rendra, Jumat pagi, disemayamkan di Rumah Lampung, di kompleks Bengkel Teater. Budayawan Emha Ainun Nadjib memimpin doa dan penghormatan menjelang pemakaman. Di sekitar Rumah Lampung warga berjejalan mendengarkan doa dan kesaksian para sahabat Rendra, seperti penyair Sutardji Calzoum Bachri, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif.

Setelah shalat Jumat sekitar pukul 14.30, jenazah Rendra dikebumikan di areal bagian belakang kawasan Bengkel Teater. Makam Rendra berjarak sekitar 10 meter dari makam Mbah Surip yang dikebumikan tiga hari sebelumnya atas izin Rendra. Pemakaman berlangsung hingga sore, sekitar pukul 16.00.

Sementara itu, untuk mengantar kepergian Rendra, jemaah di Banda Aceh mengadakan shalat gaib di Masjid Baiturrahman. ”Semua masjid di Banda Aceh diimbau agar melaksanakan shalat gaib untuk Mas Willy,” kata penggiat seni Arie Batubara dari Banda Aceh.

Hadir dalam prosesi pemakaman antara lain pengacara Todung Mulya Lubis, Adnan Buyung Nasution, wartawan senior Rosihan Anwar, Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, politisi Eros Djarot, seniman Slamet Rahardjo Djarot, sejarawan Taufik Abdullah, peneliti dan pengamat sastra Daniel Dhakidae, penyair dan aktor Ikranegara, penyair Putu Wijaya, dan aktris Jajang C Noer.

Hadir pula calon wakil presiden terpilih Boediono yang datang dengan mobil Alphard dengan pengawalan ketat. Ia tiba pukul 12.10 untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’ Nurul Yakin di pinggir jalan raya Citayam, sekitar 100 meter dari rumah duka.

Banyaknya tamu membuat ruas jalan Citayam-Cipayung macet selama beberapa jam. Beberapa peziarah harus berjalan kaki sekitar 500 meter dalam suasana panas terik menuju lokasi pemakaman.

Pahlawan

Banyak orang merasa kehilangan sosok yang karyanya merupakan kesaksian atas nasib rakyat itu.

”Ia vokal, katakan apa yang terasa dengan puisi. Ia mewakili masyarakat yang paling siuman tentang moral, tanggung jawab, dan bangsa kita yang karut-marut. Ia tak rela melihat bangsa ini semakin meluncur terus…,” kata Ahmad Syafii Maarif.

”Rendra sebenarnya pahlawan. Sayang, pemerintah kurang menghargainya. Semestinya suara Rendra harus didengar kita semua,” tambah Maarif.

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengungkapkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Rendra.

”Bapak Presiden mengucapkan belasungkawa yang dalam atas kepergian budayawan besar kita itu,” kata Hatta.

Aktor dan sutradara Slamet Rahardjo mengatakan, karya Rendra tak akan pernah mati. Slamet menyebut Rendra sebagai budayawan besar yang kritis dalam mengeluarkan pendapat.

”Saya kenal dia pertama kali tahun 1969, waktu itu baru pulang dari Amerika. Yang paling saya kagumi dari Willy, karyanya menggambarkan betapa ia menagih pemerintah terhadap janji-janji proklamasi yang tak kunjung mendapatkan jawaban,” katanya.

Sastrawan peraih SEA Write Award 2008 dari Raja Thailand, Hamsad Rangkuti, menilai Rendra sebagai budayawan dengan pemikiran yang kritis, tajam, dan menohok. ”Dalam peta seni kontemporer Indonesia, khususnya sastra dan teater, WS Rendra adalah salah satu nama terkemuka. Karyanya akan abadi untuk bangsa ini,” kata Hamsad.

Yang juga merasa kehilangan adalah kubu calon presiden dan wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. Anggota tim sukses dan Sekjen PDI-P Pramono Anung mengatakan, kepergian Rendra adalah kehilangan besar karena budayawan ini mengajarkan kebinekaan dan kebangsaan dengan tidak berteori.

Saat Megawati-Prabowo mendeklarasikan pencalonannya di Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang pada 24 Mei 2009, Rendra membacakan puisi karya Chairil Anwar, Kerawang Bekasi.

Bagi Sutardji Calzoum Bachri, Rendra adalah penyair besar dengan karya besar. Banyak seniman punya karya besar, tetapi tidak punya kepribadian besar. Rendra mempertautkan orang besar dengan karya besar. Ia seniman yang punya integritas.

Ketika Rendra meninggal, Sutardji yang bergelar ”Presiden Penyair Indonesia” merasa kehilangan sosok orang yang tingkah polahnya bisa menjadi teladan. ”Tetapi saya tidak bersedih atas meninggalnya Rendra karena ia sebenarnya tidak pernah pergi. Seniman besar tak pernah pergi. Karyanya selalu besar. Inilah orang besar di antara kita,” kata Sutardji. (CAN/IAM/NAL/NMP/SUT/XAR/DAY)



Sumber : Kompas Cetak
Together We Stand Against Terrorism! KOMPAS.com support #IndonesiaUnite

Friday, August 07, 2009

:: W.S. Rendra



Penyair terkemuka Indonesia WS Rendra, yang turut berpengaruh di Malaysia, meninggal dunia di sebuah hospital di Jakarta malam tadi setelah lebih sebulan dirawat kerana penyakit jantung. Rendra, 74, yang juga dikenali 'Si Burung Merak' meninggal dunia pada 10.15 malam tadi dengan meninggalkan 11 orang anak daripada tiga isteri - dua daripadanya sudah diceraikan, lapor Bernama.

Setelah memeluk Islam pada Ogos 1970 ketika menikahi isteri keduanya Sitoresmi Prabuningrat, beliau menukar namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra daripada nama asalnya Willibrodus Surendra Broto Renda.

Selain sajak-sajaknya, Rendra juga dikenali ramai di Malaysia melalui filem bertema agama yang dilakoninya Al Kautsar pada 1980-an.

Jenazah allahyarham dijadual dikebumikan selepas solat Jumaat di Bengkel Teater, Citayam, Depok dekat Jakarta, lapor agensi berita itu lagi.

Lokasi persemadian Rendra ini tidak jauh dari kubur sahabatnya Mbah Surip, penyanyi reggae yang mendadak popular di Indonesia dengan lagu "Tak Gendong" yang meninggal dunia Selasa lepas.

Rendra beberapa kali memperoleh anugerah dalam bidang sastera, antaranya Penghargaan Adam Malik pada 1989, SEA Write Award pada 1996 dan Penghargaan Achmad Bakri pada 2006.

Berikut catatan ringkas perjalanan hidup tokoh seniman ini seperti dimuatkan di Wikipedia:

Sebagai sasterawan

Bakat sastera Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku sekolah. Saat itu beliau sudah mulai menunjukkan kemampuannya menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk pelbagai kegiatan sekolahnya.

Bukan hanya menulis, beliau juga boleh berlakon di pentas. Rendra mementaskan beberapa dramanya, terutamanya tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Pertama kali menerbitkan puisinya di media massa pada 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya terus muncul di majalah waktu itu seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru sehingga dua dekad selepas itu, tahun 1960-an dan tahun 1970-an.

Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di sekolah dan Orang-Orang di Tikungan Jalan pula drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Jabatan Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.

Penghargaan itu membuatnya sangat bersemangat untuk berkarya.

Prof A Teeuw dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahawa dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Rendra tidak termasuk dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an.

Daripada karya-karyanya, terlihat Rendra mempunyai keperibadian dan kebebasan tersendiri.

Karya-karyanya tidak hanya dikenali di republik itu tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya sudah diterjemahkan ke bahasa asing, antaranya bahasa Inggeris, Belanda, Jerman, Jepun dan India.

Beliau juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Pada 1961, sebaik sahaja pulang dari Amerika Syarikat, Rendra mendirikan kumpulan teater di Yogyakarta tetapi ia terhenti kerana kembali semula ke negara itu. Ketika pulang semula ke Indonesia (1968), budayawan itu membentuk kembali kumpulan dinamakan Bengkel Teater.

Bengkel Teater sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air dan menjadi pangkalan kegiatan keseniannya.

Kontroversi 'Si Burung Merak'

Pada usia 24 tahun, Rendra bertemu cinta pertamanya dengan Sunarti Suwandi. Daripada wanita itu yang dikahwininya pada 1959, beliau mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Klara Sinta.

Seorang muridnya Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, puteri berketurunan istana Yogyakarta yang bergiat aktif di Bengkel Teater.

Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, pada awalnya antara lain menjaga empat anak Rendra-Sunarti tetapi kemudian bertukar cinta.

Ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi isteri kedua dan Sito menerimanya. Namun ayah wanita itu tidak mengizinkan anaknya, yang beragama Islam, berkahwin dengan seorang pemuda Katolik tetapi ia tidak menjadi halangan besar bagi Rendra.

Seniman itu mengucapkan dua kalimah syahadah pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Ogos 1970, dengan disaksikan dua lagi tokoh sastera republik itu penyair Taufiq Ismail dan pengkritik Ajip Rosidi.

Peristiwa itu mengundang reaksi sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk berpoligami.

Menjawabnya, Rendra beralasan bahawa beliau sudah lama tertarik pada Islam, terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito.

Beliau juga menjawab dengan lebih tegas: bagi Rendra, Islam memuaskan persoalan pokok yang menghantuinya selama ini tentang kemerdekaan individu sepenuhnya.

"Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai," katanya sambil mengutip ayat al-Quran, yang menyatakan bahawa Allah lebih dekat daripada urat leher seseorang.

Bergelut dengan kontroversi kehidupan poligaminya, suatu ketika sewaktu melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya di sebuah zoo Yogyakarta, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak dan dilaporkan berkata "itu Rendra! Itu Rendra!"

Sejak itu jolokan 'Si Burung Merak' melekat padanya hingga kini. Bersama Sitoresmi, beliau mendapat empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi dan Rachel Saraswati.

Tetapi Si Burung Merak tidak puas dengan dua pasangan dan menyunting pula Ken Zuraida, isteri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Tapi pernikahan itu mencetuskan pergolakan yang berakhir dengan tindakan Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti dua tahun kemudian.

Senarai karya Rendra termasuklah drama dan puisi:

Drama
Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
SEKDA (1977)
Selamatan Anak Cucu Sulaiman
Mastodon dan Burung Kondor (1972)
Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare)
Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare)
Oedipus Sang Raja (terjemahan karya Sophokles)
Lisistrata (terjemahan)
Odipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles),
Antigone (terjemahan karya Sophokles),
Kasidah Barzanji
Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan karya Jean Giraudoux) Panembahan Reso (1986)
Kisah Perjuangan Suku Naga

Puisi
Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
Blues untuk Bonnie
Empat Kumpulan Sajak
Jangan Takut Ibu
Mencari Bapak
Nyanyian Angsa
Pamphleten van een Dichter
Perjuangan Suku Naga
Pesan Pencopet kepada Pacarnya
Potret Pembangunan Dalam Puisi
Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
Rick dari Corona
Rumpun Alang-alang
Sajak Potret Keluarga
Sajak Rajawali
Sajak Seonggok Jagung
Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
State of Emergency
Surat Cinta